Di Sunda Kelapa

Gemuruh ombak menghantam dinding dermaga, terdengar suara mesin kapal pinisi yang berjajar menderu membuat suasana riuh. Suasana tersebut lekat dengan kata pelabuhan, sebuah tempat dimana aktivitas bongkar muat barang berlangsung. Ditambah aroma amis dari air laut tercium di tempat ini melantunkan sebuah kisah tentang pelabuhan tua bernama Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah adanya ibukota. Pelabuhan yang terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara sudah ada sejak abad ke-5. Pelabuhan Sunda Kelapa, yang pernah menjadi bandar dagang penting bagi Kerajaan Pajajaran dan Kesultanan Banten, dan kemudian menjadi landasan Batavia, kini sepi, berdebu, dan kelihatan bisa menyerah kapan saja. Namun, ia belum selesai.

Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa tempat dimana kapal-kapal pinisi dari seluruh penjuru negeri bersandar. Kapal-kapal itu  memuat barang kebutuhan seperti  sembako, semen, dan tekstil. Pelabuhan tersebut dikelola oleh PT Pelindo II dan tidak mengantongi sertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk melayani kapal antar pulau di dalam negeri. Fasilitas di pelabuhan ini terbatas, dan proses bongkar muat barang dilakukan dengan hanya menggunakan tenaga buruh angkut. Para buruh angkut bekerja mulai pagi hingga petang. Disela kesibukan bongkar muat, buruh sesekali membeli air dan kopi ke pedagang kopi keliling untuk memenuhi dahaga dan kebutuhannya.

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi asa kehidupan untuk buruh angkut yang menggantungkan nasibnya. Salah satunya Kusno (48) pria asal Tegal ini sudah 30 tahun menjadi buruh buruh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Baginya menjadi buruh angkut bukan yang dicita-citakan namun ketika tidak ada lagi keahlian yang bisa ditawarkan selain tenaga kasar maka buruh menjadi profesi yang harus dijalani. “ Setiap 1 ton kami dibayar sebesar Rp 8000 per orang dan dalam sehari mampu membongkar muatan 300 ton yang dikerjakan 20 orang pekerja, kalau dikalkulasikan sehari mampu menghasilkan 120 ribu,” ungkapnya.

Pelabuhan Sunda Kelapa telah menjelma sebagai kawasan wisata yang memiliki nilai historis tinggi. Perannya di masa silam membuatnya patut dialihfungsikan menjadi situs sejarah yang perlu dirawat kelestariannya. Bukan hanya wisatawan domestik tetapi banyak wisatawan asing mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa. Untuk kesana dikenakan tiket sebesar Rp 2500 per orang untuk pejalan kaki. Disana kita bisa menyewa jasa sampan seharga Rp 50.000 untuk melihat laut utara Jawa, Mercusuar Pelabuhan Sunda Kelapa atau sesekali melihat aktivitas nelayan pergi melaut. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah denyut nadi kehidupan masyarakat sekitar untuk terus berjuang dari kerasnya hidup. PHOTO’SSPEAK/ Reival Akbar Rivawan

 

455

Reival Akbar Rivawan
Reival Akbar Rivawan Lahir : Bandung, 12 April 1997 Alamat : Kp Kebon Kalapa rt 003/003 Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, 40377 "Fotografi bukan hanya melihat tetapi merasakan, jika kita tidak dapat merasakan sekitar kita, maka orang-orang di sekitar kita tidak dapat merasakan apapun dari gambar kita. berjalan memandang memotret" Line : reivalakbarr Wa : 081394603321