Rintik hujan terus membasahi lahan perkebunan sayuran semalaman penuh, namun Pak Acung dan istrinya Ibu Imas Suwarsih tetap gigih memanen hasil kebunnya. Bersama 3 orang pekerja, Ibu imas terus melangkahkan kakinya mengelilingi lahan perkebunan miliknya yang dipenuhi banyak genangan air akibat terpaan hujan yang tiada henti dari hari kemarin.
“Mau hujan besar atau panas terik, kalo udah harinya panen ya tetep turun ke kebun” Ucap Pak Acung dan Ibu Imas yang saat ini menginjak usia lebih dari setengah abad. Di lahan pertanian yang memiiliki luas 200 tumbak dan berlokasi di Desa Tugu Mukti, Kabupaten Bandung Barat mereka menanam berbagai komodias sayuran seperti kembang kol, brokoli, buncis, seledri, labu siam hingga cabai.
Pak Acung menuturkan bahwasanya untuk menanam satu macam jenis sayur perlu banyak waktu dari mulai penyemaian, penanaman hingga panen. Selain banyaknya waktu yang dihabiskan, tentu modal biaya pun tidak sedikit. Harga pupuk yang berangsur-angsur naik serta gangguan hama yang semakin bervariasi membuat Pak Acung pusing tujuh keliling.
Kartu tani yang digadang-gadang oleh pemerintah bisa menjadi solusi kesejahteraan lewat kemudahan membeli pupuk subsidi bagi yang memiliki, nyatanya tidak didapat Pak Acung. Ia sangat jarang mendapat bantuan biaya ataupun subsidi selama delapan tahun bertani. Pak Acung harus menghabiskan biaya yang banyak untuk tetap bertani di negeri ini.
Faktor cuaca juga berpengaruh besar terhadap produktivitas dan hasil pertanian para petani. Unsur cuaca berpengaruh di sektor pertanian dan memengaruhi fisiologis tanaman. Suhu udara adalah salah satu unsur yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman pertanian. “Mau musim hujan ataupun kemarau, tidak ada yang lebih enak. Tiap musim juga pasti ada aja yang dihadapinya” ucapan itu seolah menjadi bukti yang menyadarkan bahwa betapa sulitnya menjadi pahlawan komoditas pangan.
Cuaca buruk seringkali membuat hasil panen berkurang drastis hingga dua kali lipat akibat bakal buah sayur yang rontok hingga sayuran yang membusuk . Misalnya saat menanam labu siam. Bila cuaca tidak mengalami perubahan yang signifikan Pak acung bisa memanen empat sampai enam kuintal, namun bila cuaca buruk melanda ia hanya bisa memanen dua sampai tiga kuintal saja.
Dengan banyaknya pengorbanan yang dikorbankan Pak Acung, salah seorang dari 45.047.461 petani di Indonesia, tidak menjamin keuntungan besar akan didapat. Harga sayur yang ditawarkan pengepul kepada petani adalah setengah bahkan seperempat dari harga sayuran di pasar. Selisih harga yang terlampau jaun ini dipengaruhi ongkos kirim dari kebun ke pasar, biaya pekerja yang dipekerjakan oleh pengepu hingga biaya packing.
Pepatah yang menegaskan bahwasanya usaha tidak akan mengkhianati hasil seolah tidak selalu benar bagi para petani di Indonesia. Memulai menanam adalah sebuah pertaruhan yang akan berpengaruh besar terhadap kondisi keuangan keluarga. Mereka tidak pernah tau apa persoalan apa yang akan dihadapi selama penyemaian hingga panen tiba. Mereka juga tidak pernah tahu berapa harga sayuran yang mereka tanam pada saat waktu panen.
Kenyataan amat pahit yang dihadapi para petani sudah lama menjadi persoalan besar di negara Indonesia ini dan mirisnya sampai kini belum menemukan solusi yang bisa membuat petani bernafas lega. Masih banyak petani yang harus memutar otak dan membanting tulang mencari cara agar kebutuhan keluarganya terpenuhi dan bisa terus bertani di kemudian hari.








