Opens in a new tab

Akar yang Bertahan

oleh Redaktur Photos Speak

Seorang petani membawa karung di lahan pertanian.

Hamparan lahan pertanian di Dusun Cipacing.

Seorang petani bekerja di tengah lahan pertanian.

Ubi hasil panen petani dengan sisa akar dan tanah yang masih menempel.

Hasil panen ubi yang telah dikumpulkan petani.

Akar yang Bertahan

oleh Redaktur Photos Speak

Matahari yang perlahan terbit menjadi penanda bagi para petani memulai harinya. Cahya (70) sudah bersiap sejak dini hari. Ubi telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda. Bukan sekadar tanaman, melainkan sumber penghidupan. Ketidakpastian ekonomi dari hasil panen tidak pernah membuatnya berhenti. Bagi Cahya, menyerah bukanlah pilihan ketika keluarga masih harus dipenuhi kebutuhan.

Dengan cangkul tersampir di pundak, Cahya melangkah menyusuri deretan jagung yang menjulang tinggi menuju lahan ubi miliknya. Punggungnya memang tak lagi tegap, namun langkahnya tetap mantap. Di balik tubuh yang mulai membungkuk itu, tersimpan keteguhan seorang petani yang telah lama bersahabat dengan tanah. 

Cita rasa manis alami yang kuat seperti madu menjadi rasa yang lazim didapati saat menyambangi Dusun Cipacing, Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Terletak di daerah yang berbatasan dengan pegunungan dan perbukitan dengan kondisi iklim kemarau serta penghujan, menggerakan masyarakat setempat dalam sektor pertanian, khususnya ubi.

Namun, waktu membawa perubahan yang tak selalu berpihak. Lahan ubi yang dahulu membentang luas kini kian menyusut, hanya menyisakan seluas 280 m² lahan yang tersisa. Sebagian tanah telah beralih fungsi, ditanami komoditas lain, bahkan berubah menjadi permukiman. Hamparan hijau yang dulu menyatu, kini terpotong-potong, memecahnya menjadi petak-petak kecil, seolah terpisah dari habitatnya.

Tak jauh dari sana, Nana (63) dan keluarga masih setia mengolah tanahnya. Dengan topi yang menahan terik matahari, ia membungkuk di sela-sela tanaman jagung yang menjulang tinggi. Baginya, kegiatan tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari, pekerjaan yang tak bisa begitu saja ditinggalkan.

Di ladang yang kian menyempit, keluarga ini masih berbagi ruang, kerja, dan harapan. Potret sunyi mengenai keberlanjutan. Namun dibalik kebersamaan itu, terselip pertanyaan yang tak terucap: akankah tangan kecil itu kelak tetap memilih tanah yang sama, atau justru meninggalkannya?

Bagi sebagian besar masyarakat Dusun Cipacing, ubi menjadi sebuah warisan turun temurun yang kini telah memasuki generasi ke-4. Sejak kecil, warga telah akrab dengan dunia pertanian, menjadikan regenerasi petani terus berlangsung. Namun, kini cerita itu mulai berubah. Generasi muda tak lagi sepenuhnya memilih bertahan di ladang.

“kedahna mah ayeuna tos istirahat, nganti keluarga justru teu aya nu neruskeun, matak 2 atanapi 3 taun deui mah duka bakal aya keneh duka tos teu aya”, ujar Cahya. Kegelisahan seorang petani yang melihat masa depan ladangnya kian samar.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin minimnya lahan, mengakibatkan berkurangnya minat anak muda terhadap sektor pertanian. Pertanian dipandang sebagai pekerjaan yang kotor dan tidak “keren”, sebagian dari mereka lebih memilih bekerja di industri atau sektor lain yang dianggap lebih menguntungkan dan bergengsi.

Di tengah kondisi itu, masyarakat sebenarnya menyimpan potensi besar. Melimpahnya hasil ubi, mendorong munculnya ide-ide yang lebih menarik untuk memperluas pasar bahkan hingga ke luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Bali. 

Proses panjang yang dihadapi para petani, rintangan siklus musim yang menghampiri, hingga dikenal sebagai salah satu produsen ubi di Kabupaten Sumedang, menggambarkan betapa bersejarahnya ubi di dusun ini hingga populer dan diminati masyarakat luas. Para petani hanya berharap satu hal sederhana: harga hasil panen tetap stabil, agar dapur tetap mengepul dan kehidupan keluarga terus berjalan.