Oleh: Tantri Setiawati
Pertemuan dengan Anggit (21) di Kota Tasikmalaya membawa salah satu kisah menarik. Hingga setelah pertemuan itu, kami bertemu di ranah kampus dan terus bercengkerama di beberapa kesempatan.
Kami sampai pada pembahasan yang membuat saya tercengang. Dia memulainya dengan kalimat “Ini cerita yang sebenarnya hampir ngak pernah diceritain ke orang,” ujarnya.
Teman – teman terdekat mengenalnya sebagai si anak ceria dan pemberani yang gemar bertualang.
Namun dengan senyum khasnya, dia mengungkapkan sesuatu yang bertolak belakang. Bahwa sebenarnya, Dia si anak sulung yang terlahir dari orang tua dengan pola asuh yang sangat ketat.
Pola pengasuhan yang ketat sering disebut dengan authoritarian atau pola asuh otoriter. Pola asuh authoritarian atau otoriter adalah salah satu bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orang tua agar anak tunduk dan patuh. Pola asuh ini di populerkan oleh Baumrind.
Anggit menyadari bahwa pola asuh yang diterapkan ini, merupakan pola yang ada secara turun temurun dan mengakar menjadi konstruksi sosial yang juga meliputi dirinya.
Di sisi lain, pola asuh ini ternyata menimbulkan sedikit ruang kesedihan bagi Anggit. Pasalnya, kecemasan berlebih tersebut membuatnya kesulitan untuk dapat menjamah dunia luar, di umurnya saat ini.
Namun, Keterikatan tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang meraih mimpi-mimpi. Meskipun harus dengan izin dan restu yang menjadi barang mahal.
Misinya adalah menumbuhkan rasa percaya melalui bukti hasil jerih payah, melalui ribuan usaha yang sudah dia lakukan demi kepercayaan itu. Dan beruntungnya hal tersebut mampu berbuah manis.
Berkuliah jauh di luar kota dan terus meraih prestasi menjadi salah satu buktinya. Tentu dibarengi juga dengan sikap dan kepercayaan yang terus dia jaga.
“Perempuan bisa memulai perubahan dari hal yang terkecil,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Menjadi seseorang yang aktif di berbagai kegiatan positif serta menjadi pribadi yang pantang menyerah juga menjadi bentuk usahanya. Dan bunga dandelion seolah menggambarkan kegigihannya.
Saat ini, usaha memahami dan menumbuhkan rasa percaya menjadi hal yang terus dia jaga. Meski dengan langkah pelan, dia yakin bisa menjadi perempuan yang lebih kuat dan mampu meraih semua angan serta cita-citanya.
Anggit juga percaya bahwa suatu hari, dia bisa menjelma kupu-kupu yang terbang indah tanpa rasa takut dan khawatir lagi nantinya .






