Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, ada banyak hal yang sering kali luput dari perhatian termasuk perjuangan mereka yang bekerja tanpa henti demi keluarga. Si pencari nafkah, dengan langkah tegas dan tangan yang tak kenal lelah, terus menapaki perjalanan hidup, tanpa banyak meminta. Dalam diam mereka, ada beban dan harapan yang tidak terucapkan. Namun, meski tidak ada kata-kata yang terucap atau sorakan yang menggema, apresiasi itu tetap ada—dalam hening.
Sering kali, perhatian dan apresiasi itu lebih banyak tertuju pada satu sisi. Dalam banyak kesempatan, kita melihat perempuan dihargai atas perjuangan mereka, atas dedikasi mereka dalam keluarga dan pekerjaan. Tetapi di balik itu, ada juga perjuangan yang tak kalah berat yang sering kali terabaikan, perjuangan para laki-laki yang terus bekerja keras, tanpa banyak sorotan, tanpa banyak pujian. “Saya jaga di kebun dari pagi sampe maghrib, cari nafkah buat keluarga” Ucap Pak Darmat narasumber saya kali ini
Dalam dunia yang kerap riuh dengan kata-kata dan pujian, ada jenis penghargaan yang tak terlihat oleh mata. Sebuah apresiasi yang tak terlihat, tidak pernah dilontarkan dengan sorakan atau tepuk tangan, sering kali apresiasi untuk mereka hilang dalam keheningan. Ketika wanita dihargai atas kontribusi mereka dalam rumah tangga dan berkarier, laki-laki sering kali harus menerima kenyataan bahwa kerja keras mereka dianggap biasa saja, bahkan tidak dilihat.
Si pencari nafkah, dalam kesibukannya, mungkin tak mengharapkan pujian atau tepukan di pundak. Namun, ada cara lain untuk mengungkapkan rasa terima kasih yaitu dalam diam, dalam keheningan. Ada kekuatan dalam ketenangan, sebuah apresiasi yang disampaikan dalam setiap detil yang tak tampak, “Berilah kekuatan dalam setiap langkahnya, lindungi dia dari setiap halangan dalam pekerjaannya” begitu untaian do’a yang dilangitkan oleh keluarga dan orang terkasihnya kepada Sang Maha Kuasa, supaya si pencari nafkah tetap berada dalam perlindungan-Nya.
Namun hening dalam apresiasi bukanlah sebuah kekosongan, melainkan ruang di mana rasa terima kasih tumbuh dengan penuh kesederhanaan. Ia seperti angin yang tidak tampak, namun dapat dirasakan oleh siapa saja yang peka. Di balik setiap keringat yang menetes, di balik tiap malam yang terlewat tanpa tidur, ada rasa hormat yang sangat dalam.
“Hening dalam Apresiasi” bukanlah sebuah kebisuan tanpa makna, melainkan sebuah bentuk penghargaan yang halus dan mendalam. Terkadang, dalam keheningan, kita bisa merasakan betapa besar peran seseorang dalam kehidupan kita. Tanpa mereka, banyak yang tak akan mungkin tercapai. Namun, karena rasa terima kasih itu terlalu besar untuk dijelaskan, ia seringkali terpendam dalam hati, menunggu saat yang tepat untuk keluar.
“Hening dalam Apresiasi” adalah sebuah pengingat bahwa tidak semua bentuk penghargaan harus ditunjukkan dengan gegap gempita. Beberapa hal yang paling berharga hanya bisa dirasakan dengan hati. Seperti lautan yang diam namun begitu dalam, rasa terima kasih itu mengalir tanpa suara, namun tetap meninggalkan jejak yang abadi.





