Opens in a new tab

Kopi Sompok di Jantung Hutan Kesang

oleh Redaktur Photos Speak

Mesin penggiling digunakan untuk mengolah biji kopi Sompok sebelum memasuki tahap pengolahan selanjutnya

Hasil panen buah kopi Sompok yang baru dipetik dari perkebunan

Seorang petani berada di tengah rimbunnya tanaman kopi di perkebunan Sompok

Petani kopi Sompok berbincang di sebuah pondok di tengah perkebunan

Potret sejumlah petani kopi Sompok di kawasan perkebunan kop

Sebuah pondok sederhana menjadi tempat beristirahat para petani kopi Sompok di tengah kawasan perkebunan

Kopi Sompok di Jantung Hutan Kesang

oleh Redaktur Photos Speak

Wajah-wajah para petani kopi Sompok menjadi saksi hidup perjalanan panjang kopi yang tumbuh di kaki Gunung Kesang. Dari generasi muda hingga petani sepuh, mereka hadir dengan pengalaman dan latar belakang berbeda, namun disatukan oleh ikatan yang sama yaitu merawat kopi sekaligus menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama.

Di tengah rimbunnya pepohonan, berdiri sebuah pondok sederhana dari terpal dan kayu. Pondok ini menjadi pusat aktivitas para petani selama berada di hutan. Di sanalah mereka beristirahat, menyimpan hasil panen, dan bertahan selama berhari-hari jauh dari pemukiman.

Di sela rutinitas kebun, para petani berkumpul di dalam pondok untuk beristirahat sejenak. Percakapan ringan dan minuman hangat menjadi pengisi jeda, sebelum kembali melanjutkan pekerjaan yang tidak pernah benar-benar berhenti. 

Ketika waktu istirahat usai, seorang petani melangkah keluar dari pintu pondok. Cahaya yang menembus celah pintu menandai peralihan dari ruang rehat menuju ruang kerja. Dari pondok, langkah kaki kembali mengarah ke kebun kopi yang menanti untuk dirawat.

Di kebun, proses pemetikan dilakukan dengan penuh kesabaran. Tangan-tangan petani memetik ceri kopi satu per satu, memilih hanya buah yang telah matang sempurna. Ketelitian menjadi kunci utama, sebab kualitas kopi sangat ditentukan sejak tahap paling awal.

Perbedaan warna ceri kopi yang terhampar di telapak tangan merah cerah dan gelap menjadi penanda tahap kematangan. Seleksi ini menjadi gerbang awal sebelum kopi melangkah ke proses pascapanen, memastikan hanya buah terbaik yang diolah lebih lanjut.

Setelah melalui proses pengeringan dan pengolahan awal, biji kopi memasuki tahap roasting. Biji dipanggang hingga mencapai tingkat kematangan tertentu. Suara crack dan aroma yang muncul menjadi panduan utama. Meski dibantu mesin sederhana, kepekaan petani tetap memegang peran penting dalam menentukan karakter rasa kopi.

Perjalanan kopi Sompok kemudian berlanjut pada tahap green bean. Biji kopi hijau tersimpan rapi, menandai awal perjalanan baru menuju pasar. Dari hutan Kesang, setiap biji kopi membawa cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan hubungan manusia dengan alam.