Setiap individu memiliki tiga lapisan “wajah” atau topeng kepribadian, yang disesuaikan dengan konteks sosial. Wajah pertama merepresentasikan topeng yang ditunjukkan kepada dunia luar, termasuk kenalan atau teman biasa, berupa sikap ramah, senyum, dan perilaku sopan untuk diterima masyarakat. Wajah kedua menunjukkan sisi lebih santai, seperti kegilaan, kehilangan rasa malu, atau bicara blak-blakan setelah hubungan terjalin lama. Wajah ketiga adalah sisi diri yang sebenarnya, mencerminkan kepribadian autentik.
Dalam berpuisi, seseorang dapat melepas topeng sosial untuk menggali dan mengkomunikasikan pengalaman emosional, konflik batin, atau kisah pribadi yang mendalam, yang sering kali sulit disampaikan melalui interaksi biasa. Dengan kata lain, puisi menjadi sarana eksplorasi dan pelampiasan diri yang lebih jujur dan personal dibandingkan topeng yang dikenakan di dunia sosial. Berkarya puisi merupakan manifestasi dari perjalanan melewati dan bereksperimen dengan berbagai topeng kepribadian seseorang dalam bentuk estetika dan simbolis dengan meninggalkan topeng topeng pembatas sosial. Dalam projek ini, medium apresiasi terhadap karya seni secara lisan bukanlah hal yang sepele, melainkan bagaimana cara melestarikan sebuah budaya yang selalu eksis di berbagai peradaban yang sekarang mulai luntur. itulah mengapa, kehadiran komunitas Bandung Berpuisi menjadi angin segar sekaligus upaya menjaga budaya berpuisi tidak termakan oleh masyarakat, waktu, dan zaman.
“Nggak ada pengaruh dari hegemoni kelas seperti apa, mau itu mau itu membicarakan politik atau apapun itu, bagi urang itu tetap karya yang patut diapresiasi.” – Bob Anwar.
Dimulai dari seniman, untuk seniman lainnya. Bob Anwar dan Beni Anwar Z yang sering dipanggil “Eben” , dua seniman Bandung mendirikan komunitas Bandung Berpuisi di Komuji, sebuah social space di daerah Dago yang sedari dulu dijadikan salah satu tempat bersua para seniman – seniman asal Bandung. berdiri sejak 2024, kehadiran Bandung Berpuisi telah menyebar luas menciptakan komunitas solid, nyaman dan aman. Bisa dilihat dengan open submission puisi secara rutin dengan tema khusus setiap bulannya. Puisi – puisi yang lolos kurasi akan dicetak melalui zine yang dibuat setelah periode open submission telah selesai di stand kecil untuk berniaga barang barang Bandung Berpuisi. selepas itu, orang – orang yang telah mengirim juga diundang untuk mementaskan karya puisinya lewat kegiatan open mic yang diselenggarakan setelah periode open submission berakhir,
Dalam kesempatan kali ini, tema yang diusung adalah “Dalam Sakit”, para penyair diberikan kebebasan dalam memaknai tema dan menuangkannya dalam bait – bait puisi yang dibuat.
Salah satunya adalah seorang penulis novel di media online Wattpad, Yayang (23 tahun) dimana untuk pertama kalinya puisi yang dibuatnya berhasil masuk proses kurasi dan berkesempatan tampil pada acara open mic. Dibalik sosoknya yang riang dan ramah senyum, pembacaan puisi – nya dimalam itu membuka emosi yang tak bisa dilihat dalam keseharian, menerjemahkan tema dengan kesedihan dan ironi, untuk penampilan pertama kalinya, menyetir dari Bojongsoang ke Dago Pakar adalah hal yang sangat memuaskan.
Lalu penampilan selanjutnya adalah Rei (21 tahun), seorang Office Boy (OB) di salah satu kantor di bandung, membawakan puisinya dengan gaya Rap – Reggae, menyimpulkan tema “Dalam Sakit” dengan ironi masyarakat di zaman sekarang, para pengunjung malam itu bersorak ramai kepadanya. Baginya, berpuisi membawa ketenangan daripada ricuh mengeluh keadaan sehari – hari.
Terlepas karya para penyair tidak lolos pengkurasian open submission, para pengirim masih bisa membaca puisi – puisi mereka yang tidak lolos, ataupun membaca puisi – puisi yang lolos namun sang pembuat tidak dapat hadir pada saat acara berlangsung, yang perlu dilakukan hanyalah datang ke Eben dan menulis nama pada kertas senarai dan kalian bisa tampil di depan pengunjung membacakan puisi.
Dengan antusias tinggi serta lingkungan komunitas yang positif, foto – foto ini melepas topeng sosial dengan berekspresi melalui karya seni yang dihargai oleh orang – orang di komunitas Bandung Berpuisi, terlepas puisi karangan siapa, tiap bait yang terucap, makna didalamnya tersampaikan secara jujur, tanpa ditutupi menghadirkan keterbukaan yang tidak dilihat sebelah mata.






