Ngertakeun Bumi Lamba

“Semua orang yang dilahirkan mempunyai tugas untuk ngertakeun bumi lamba, merawat alam dari bumi kecil untuk seluruh lingkungan bumi yang lebih besar. Begitulah yang diamanatkan Prabu Siliwangi dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda’ng Karesian.”

Suasana pagi di kawasan Gunung Tangkuban Parahu kala itu berbeda dengan pagi-pagi setiap harinya karena pagi itu di kawasan Gunung Tangkuban Parahu ramai oleh masyarakat adat yang lengkap dengan pakaian adat dari daerahnya masing-masing dengan tujuan untuk melaksanakan upacara ngertakeun bumi lamba. Lantunan doa, persembahan sesajen, dan semerbak wangi kemenyan melebur dalam keramaian kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Proses upacara adat ngertakeun bumi lamba berjalan hidmat. Upacara adat yang sudah ada sejak 500 tahun lalu ini kembali digelar pada tahun 2011 sampai tahun 2019 sekarang. Ritual tahunan ini digelar bertepatan dengan kembalinya perjalanan matahari dari penghujung utara bumi menuju selatan berdasarkan perhitungan Suryakala, dalam Kalender Sunda digelar setiap bulan kapitu atau bulan ketujuh.

Masyarakat adat dari Sabang sampai Merauke diundang dalam acara ini. Saling berburnya masyarakat adat dalam acara ini menunjukan nilai kebersamaan dari setiap masyarakat adat yang hadir. Jaro, panggilan ketua adat masyarakat adat Sunda mulai memimpin jalannya upacara ngertakeun bumi lamba. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjut dengan doa-doa dari setiap masyarakat adat yang hadir dalam acara ini.

Warga sekitar kawasan Gunung Tangkuban Parahu juga ikut hadir menyaksikan acara tahunan ini. Selain warga lokal, turis mancanegara pun ikut hadir dan menyaksikan acara sakral yang kental dengan kearifan budaya ini seperti musik dan tarian khas dari setiap masyarakat adat dan sesajen serta do’a-do’a dari setiap kepercayaan. Tak ayal, sesekali terlihat turis mancanegara ikut mengobrol dan berfoto bersama dengan masyarakat adat yang ada. Matahari kian meninggi, upacara pun di lanjut dengan jajap parawanten yaitu mengantarkan sesajen yang ditata di atas jampana ke Kawah Ratu. Iringan musik khas Baduy dengan angklung buhun dan angklung buncis khas Cirendeu menjadi daya tarik ketika iring-iringan ini berjalan melewati para pengunjung Gunung Tangkuban Parahu.

Sesampainya diatas Kawah Ratu, wangi kemenyan kembali tercium dengan tarian yang diiringan musik tarawangsa. Winda, salah satu penari dari Bali yang mengikuti ritual meliukan tubuhnya mengikuti musik. Ini bukan yang pertama kali untuk wida mengikuti acara ngertakeun bumi lamba.

Lalu tibalah proses puncak dari acara ngertakeun bumi lamba ini, yaitu melemparkan sesajen yang telah mereka doakan ke kawah Tangkuban Parahu. Riuh bahagia dari para peserta upacara memenuhi Gunung Tangkuban Parahu ketika mereka melemparkan sesajen ke dalam kawah. Pelemparan sesajen ini sebagai simbol rasa syukur manusia atas nikmat alam yang telah mereka terima serta menjadi pengingat agar terus merawat bumi ini dari kerusakan yang kian masif. PHOTO’S SPEAK / Fakhri Fadlurrohman

 

935

Fakhri Fadlurrohman Alamat: Jl. Terusan Pasirkoja Gg Satata Sariksa, Rt 09 Rw 04. TTL: Bandung, 14 Mei 1998 "Menjadi manusia merdeka dengan menebarkan kebenaran kepada setiap insan yang ada." Sosmed: Line: fahri145 Instagram: fakhrifdll Facebook: facebook.com/Kiyahahaha