Opens in a new tab

Pasar Antri yang Tak Lagi Mengantri

oleh Redaktur Photos Speak

Suasana Pasar Antri Baru Cimahi

Sejumlah manekin yang sudah tidak terpakai menumpuk di salah satu sudut Pasar Antri.

Potret seorang pedagang di Pasar Antri Baru

Sejumlah kios masih beroperasi di lorong Pasar Antri

Potret seorang pedagang di Pasar Antri Baru

Pasar Antri yang Tak Lagi Mengantri

oleh Redaktur Photos Speak

Pasar Antri Baru Cimahi, yang berdiri di jantung kota, sejak lama menjadi denyut kehidupan ekonomi warga. Di tempat inilah kebutuhan sehari-hari dipenuhi, tawar-menawar berlangsung akrab, dan relasi sosial tumbuh dari percakapan sederhana antara pedagang dan pembeli. Pasar ini bukan sekadar ruang transaksi, melainkan ruang hidup tempat ingatan kolektif warga bertaut dengan rutinitas harian yang membumi. Setiap sudutnya menyimpan cerita, dari suara timbangan sayur yang beradu, kain-kain yang tergantung di kios pakaian, hingga derit becak yang setia menunggu penumpang.

Namun waktu membawa perubahan yang perlahan menggerus denyut itu. Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Antri terasa semakin sunyi. Lorong-lorong yang dulu riuh kini lebih sering lengang, langkah kaki terdengar jelas memantul di lantai pasar yang lapuk. Pergeseran pola belanja masyarakat dari menjamurnya pasar tumpah, kemudahan belanja daring, hingga hadirnya pusat perbelanjaan modern pelan tapi pasti menggeser kebiasaan warga. Para pedagang pun bertahan di tengah pendapatan yang kian tak menentu, membuka kios dengan harapan yang sering kali tak berbalas.

Di salah satu sudut pasar, Mas Rahman, pedagang sayur yang sudah belasan tahun berjualan, duduk di balik lapak sederhana beralas terpal. Tomat, cabai, dan kangkung tertata rapi, seolah siap menyambut pembeli yang tak kunjung datang. “Dulu pagi-pagi sudah ramai, jam sembilan aja dagangan bisa habis setengah,” ujarnya pelan. Kini, menurut Rahman, pembeli semakin jarang. “Kadang sampai siang Cuma beberapa orang. Kalau sepi begini, sayur bisa layu, rugi di kita.” Meski begitu, ia tetap datang setiap hari. Baginya, Pasar Antri bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidup yang sudah menyatu dengan kesehariannya. Rahman berharap pemerintah tak menutup mata. “Kalau pasarnya dibenahi, bersih, nyaman, mungkin orang mau balik lagi belanja ke sini,” katanya penuh harap.

Tak jauh dari lapak sayur, Kang Naufal menggantungkan deretan baju di kios sempit miliknya. Kios itu dulu selalu dipadati pembeli yang memilih pakaian sambil bercanda ringan. Kini, ia lebih sering merapikan gantungan yang sama berulang kali. “Sekarang yang lewat aja jarang, apalagi yang beli,” ucapnya sambil tersenyum pahit. Menurut Naufal, pasar tradisional kalah bersaing bukan karena kualitas barang, melainkan soal kenyamanan dan citra. “Orang sekarang mikir pasar itu panas, becek, semrawut. Padahal kalau ditata ulang, bisa jadi tempat belanja yang asyik,” ujarnya. Ia berharap revitalisasi pasar tak hanya soal bangunan, tetapi juga promosi dan penataan pedagang agar lebih tertib dan menarik bagi generasi muda.

Tak hanya itu Abah Jaka, seorang tukang becak sepuh, duduk menunggu penumpang dengan sabar. Becaknya terparkir di bawah pohon tua yang menjadi saksi bisu perubahan Pasar Antri. “Dulu mah, dari pagi sampai sore bisa bolak-balik narik orang belanja,” kenangnya. Kini, Abah Jaka lebih sering menunggu dalam diam, menatap pasar yang tak lagi ramai. “Kalau pasar sepi, kita juga ikut sepi rezeki,” katanya lirih. Meski begitu, ia tetap setia mangkal di sana. Bagi Abah Jaka, Pasar Antri adalah rumah kedua. Ia berharap pemerintah menghadirkan kembali keramaian itu. “Kalau pasar hidup lagi, orang belanja lagi, becak juga kepake lagi,” ujarnya sederhana.

Sepinya aktivitas turut meninggalkan jejak pada wajah pasar. Beberapa sudut tampak kurang terawat, fasilitas umum tak lagi berfungsi maksimal, dan bangunan menunjukkan tanda-tanda kelelahan usia. Namun di balik itu semua, Pasar Antri belum sepenuhnya kehilangan nyawanya. Mas Rahman, Kang Naufal, Abah Jaka, dan pedagang lainnya adalah denyut yang masih bertahan menjaga agar pasar ini tetap hidup meski pelan.

Melalui rangkaian foto dan narasi ini, Pasar Antri Cimahi direkam sebagai potret perubahan sosial dan ekonomi kota. Bukan hanya tentang pasar yang kian sepi, tetapi tentang manusia-manusia yang bertahan dengan kesabaran dan harapan. Pesan mereka sederhana namun kuat: pasar tradisional layak dirawat, dibenahi, dan dihidupkan kembali. Revitalisasi bukan semata membangun fisik, melainkan menghidupkan kembali ruang sosial agar Pasar Antri kembali mengantri dipenuhi langkah, suara, dan kehidupan.