Produksi Kulit Ketupat Meningkat Jelang Lebaran di Bandung

Pengrajin menunjukan anyaman kulit ketupat di Gang Blok Ketupat, Caringin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, produksi anyaman kulit ketupat di Kampung Ketupat tersebut meningkat signifikan, dari sekitar 1.000 menjadi 3.000 buah per hari. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, satu ikat berisi sepuluh kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu. PHOTOSSPEAK/Lukman Hidayat

Pengrajin menyelesaikan produksi kulit ketupat di Gang Blok Kupat, Caringin, Kota Bandung, Rabu (18/3/2026). Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, produksi anyaman kulit ketupat di Kampung Ketupat tersebut meningkat signifikan, dari sekitar 1.000 menjadi 3.000 buah per hari. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, satu ikat berisi sepuluh kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu. PHOTOSSPEAK/Naufal Al Ghifari Pratama

Pengrajin menyelesaikan produksi kulit ketupat di Gang Blok Kupat, Caringin, Kota Bandung, Rabu (18/3/2026). Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, produksi anyaman kulit ketupat di Kampung Ketupat tersebut meningkat signifikan, dari sekitar 1.000 menjadi 3.000 buah per hari. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, satu ikat berisi sepuluh kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu. PHOTOSSPEAK/Naufal Al Ghifari Pratama

Pengrajin menyelesaikan anyaman kulit ketupat di Gang Blok Ketupat, Caringin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, produksi anyaman kulit ketupat di Kampung Ketupat tersebut meningkat signifikan, dari sekitar 1.000 menjadi 3.000 buah per hari. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, satu ikat berisi sepuluh kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu. PHOTOSSPEAK/Lukman Hidayat




Photographer
Redaktur Photos Speak
Photo’s Speak adalah komunitas fotografi jurnalistik yang lahir dari keresahan sejumlah mahasiswa karena ditebangnya pohon-pohon rindang yang ada di Kampus UIN Sunan Gunung Djati.